Cara Mengatasi Wartawan Bodrex
Sepak terjang wartawan abal- abal atau lazim disebut wartawan bodrex, kerap menimbulkan keresahan di masyarakat. Terlebih lagi bagi seseorang yang memiliki jabatan, mereka kerap kewalahan menghadapi pasukan pemburu amplop tersebut. Lantas, bagaimana mengatasi mereka ?
Jumat (11/9) siang, saya dikontak seorang sahabat yang kebetulan memiliki berbagai bisnis level menengah. Ia mengaku dihubungi beberapa wartawan, untuk konfirmasi mengenai masalah perijinan di salah satu unit usahanya. Celakanya, unit usaha yang disoal, kebetulan ijin HO (Hinder Ordonantie) belum jadi. Ia kebingungan karena khawatir pemberitaan di media bakal mengganggu bisnisnya sehingga berimbas pada nasip puluhan karyawan.
Sebagai sahabat yang baik, wajar dong saya berempati. Saya langsung merapat ke rumah teman saya yang bernama Agus (sebut saja begitu). Tanpa menunggu lebih lama, saya terlibat diskusi terbatas membahas keberadaan wartawan yang akan konfirmasi untuk melengkapi pemberitaan. Berdasarkan hasil diskusi, saya menyimpulkan, beberapa wartawan tersebut bukanlah seorang jurnalis beneran. Mereka hanyalah wartawan bodrex yang targetnya mencari kesalahan sumber berita, diolah menjadi rupiah.
Kenapa saya memiliki persepsi orang- orang tersebut merupakan wartawan bodrex ? Yang pertama, medianya tidak jelas. Kendati tergabung di media online, namun media tersebut sangat jarang dikunjungi pembaca karena beritanya ecek- ecek. Alasan kedua, oknum- oknum ini dalam meminta konfirmasi sangat agresif, meminta bertemu face to face. Padahal, wartawan beneran, kalau hanya sekedar konfirmasi, tak ada keharusan bertemu face to face. Sebab, yang dibutuhkan adalah keterangan sebagai penyeimbang pemberitaan. Sedang dasar ketiga, meski yang minta konfirmasi satu orang, namun mengaku mewakili beberapa media cetak mau pun elektronik.
Setelah diskusi yang mengkerucut kearah identifikasi oknum selesai, akhirnya saya sepakat mendampingi Agus. Dalam hal ini, saya diaku sebagai salah satu karyawannya. Melalui pesan singkat, oknum yang mengaku wartawan dihubungi dan kami tunggu di salah satu kafe di Salatiga. Tak butuh waktu lama, jeda 10 menit, dua orang wartawan bodrex itu tiba. Rupanya sedari tadi mereka menunggu kontak dari Agus.
Rp 5 Juta Ke Rp100 Ribu
Dua orang wartawan bodrex itu tiba berboncengan sepeda motor, penampilannya, ck ck ck melebihi wartawan beneran. Mengenakan celana jeans, tubuhnya dibalut jacket kulit imitasi dan sebagai pelengkap nenteng tustel digital yang harganya kisaran Rp 1 jutaan. Sembari menunggu makanan datang, keduanya memperkenalkan diri. Yang satu mengaku wartawan online, sedang temannya wartawan tablod mingguan. Kebetulan, saya diposisikan sebagai public relation.
Dari cara makan mereka saat menghabiskan dua porsi sop buntut dalam tempo singkat (tak ada lima menit), saya meyakini perut keduanya belum terisi sejak pagi. Sama sekali tidak menjaga marwah seorang jurnalis. Tuntas meludeskan makanan berat, langsung mengembat makanan ringan sambil ngibul ngalor ngidul. Yang kenal baik dengan beberapa pejabat penting, yang dulunya ikut tim pemenangan seorang kepala daerah hingga bergaya menerima telepon seakan dari pejabat. Saya hanya diam saja melihat orang- orang yang kelaparan ini.
Usai menggasak seluruh makanan yang tersedia, baru mereka memainkan perannya masing- masing. Satu orang ngoceh tentang pentingnya perijinan, yang seorang lagi membual bahwa tiga temannya masih ada acara tapi menunggu hasil konfirmasi. Setelah bualannya selesai, saya memperlihatkan beberapa dokumen perijinan yang tengah dalam proses. Meski begitu, mereka tetap mempersoalkannya. Bila diekspos, maka bakal berdampak perijinan akan tidak dikabulkan. Memangnya mereka Walikota , pikir saya.
Saya datar saja menanggapinya, ketika saya meminta tolong agar jangan diekspos, belang keduanya mulai terbuka. Tanpa malu, salah satu diantaranya mengatakan, sebenarnya sangat berat memenuhi permintaan saya. Sebab, kesalahannya amat fatal. Meski begitu akan diupayakan untuk membantu. Kompensasinya, karena mereka melaksanakan tugas redaksi yang identik bekerja, otomatis wajib ada dana pengganti.
Saya manggut- manggut mendengar penjelasannya yang mulai menggiring kea rah financial ini. Terus nominalnya berapa ? Dengan sangat enteng, juru biacara itu menjawab Rp 5 juta ! Ya Rp 5 juta untuk dibagi lima orang, uang segitu katanya relatif sedikit dibanding kerugian yang akan menimpa Agus semisal kasusnya diekspos. Jujur saja, melihat tampang serius mereka, saya agak geli. Sedang teman saya cuma terdiam.
Beberapa saat kemudian, saya jelaskan bahwa proses perijinan selama berkas dan persyaratan lengkap, maka tak ada satu alasan pun untuk tak mengabulkannya. Yang paling penting, saya tegaskan kalau kami menolak permintaan mereka. Bila mau diekspos setiap hari silahkan, tiap minggu juga silahkan. Mendengar omongan saya yang terakhir, sepertinya mereka agak shock. Sudah terlalu berharap, ternyata realisasinya nol besar.
Saat mereka terbengong- bengong, saya menambahkan selama ekspos berita di media (abal- abal) mereka tidak merugikan nama baik teman saya, tidak akan ada masalah. Tetapi, bila merugikan, saya akan menggunakan hak jawab sesuai UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.Satu hal yang perlu dicatat, semisal pemberitaan yang ngawur muncul di media sosial, baik facebook atau twitter, maka saya bakal menempuh jalur hukum dengan menggunakan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Kiat aman
Selesai mendengar “tausiah” dari saya,dari gesturnya, keduanya agak grogi. Meski begitu, mereka tetap meminta kompensasi. Nominalnya menurun menjadi Rp 2,5 juta, namun tetap saya tolak. Begitu pun ketika jumlahnya diturunkan hingga Rp 1 juta, saya bergeming.Mungkin karena putus asa, akhirnya mereka hanya meminta uang bensin sebesar Rp 100 ribu.
Kendati hanya Rp 100 ribu, sebenarnya saya tidak akan memberikannya. Tapi, sahabat saya belakangan memberinya karena merasa iba mengingat keduanya datang dari luar kota. Setelah bayangan bodrex- bodrex itu lenyap, saya kembali memberikan “tausiah” terhadap Agus yang piawai berbisnis, namun kurang menguasai hal- hal seperti ini.
Agar nantinya ia tak menjadi ATM hidup bagi oknum- oknum yang mengaku wartawan, saya memberikan kiat aman sederhana dalam menghadapi para bodrex. Berikut kiatnya :
- Jangan panik saat dihubungi seseorang yang mengaku sebagai wartawan, sebab, ketika diri kita dilanda kepanikan, maka otak kurang mampu berfikir optimal.
- Hadapi dengan tenang, tanyakan dari media apa ? Minta press cardnya, minimal surat tugas dari redaksi.Bila belum pernah mendengar nama medianya, abaikan saja. Tak perlu dilayani.
- Bila oknum tersebut mengaku bertugas satu kota, coba lakukan cross check ke bagian humas pemerintah kota/ kabupaten. Sebab, setiap wartawan yang sah, pasti terdaftar di instansi tersebut.
- Bila terpaksa harus menemuinya, upayakan ada pendamping. Sehingga semisal muncul upaya pemerasan, ada saksinya.
- Jangan terpengaruh dengan intimidasi mau pun bualan- bualan pelaku yang seakan memberikan pressure.
- Jangan sekali kali memberikan uang mau pun barang, sebab, kebaikan anda bakal dijadikan langganan tetap.
- Bersikaplah ramah namun tegas, jangan membuka peluang kompromi.
- Akan lebih baik bila memiliki hubungan dengan salah satu wartawan tulen yang ada di kota/ kabupaten. Paling tidak, bisa untuk menggali informasi tentang keberadaan oknum- oknum yang suka memeras tersebut. Biasanya, di satu kota/ kabupaten terdapat wartawan beneran yang totalnya mencapai 20 – 30 orang.
- Bila dianggap perlu, pelajari UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, minimal bida dijadikan pegangan.
Wartawan Bodrex Muncul Tahun 80 an
Hampir di semua kota, sebenarnya selalu ada oknum- oknum yang mencari recehan dengan menjadi wartawan bodrex. Kenapa orang- orang tersebut mendapat julukan wartawan bodrex ? Sejarahnya cukup panjang, muncul di tahun 80 an. Di mana, saat penerbitan harus memiliki SIUP, implikasinya profesi wartawan tergolong langka. Pasalnya, proses seleksi di media sangat selektif.
Menyandang profesi sebagai jurnalis, di era 80 an juga mendapat julukan “Ratu Dunia”, mereka dianggap mengetahui berbagai hal, mampu menerobos segala bentuk birokrasi dan sering memperoleh pelayanan yang yang lebih. Hal itulah yang memikat oknum- oknum tertentu mengaku – aku menjadi wartawan.
Karena namanya saja wartawan gadungan, secara psikologis pelaku merasa bersalah. Untuk menjalankan aksinya, mereka pun berkelompok dengan jumlah 5 – 8 orang. Aksi- aksi mereka mendatangi sumber berita atau acara-acara resmi tersebut, oleh kalangan wartawan asli, disebut sebagai wartawan bodrex. Sebab, di tahun 80 an, ketika stasiun televisi hanya ada satu, yakni TVRI, kerap menayangkan iklan obat sakit kepala Bodrex.
Dalam tayangan iklan digambarkan pasukan bodrex datang, pasukan bodrex menyerang dan pasukan bodrex menang. Nah, karena kelakuan para wartawan gadungan itu mirip iklan Bodrex, maka kalangan jurnalis menjulikinya sebagai wartawan bodrex. Kerjanya memburu sumber berita, diserang hingga mendapatkan uang (menang).
Bila di tahun- tahun 80-90 an wartawan bodrex hanya bermodalkan penampilan, tanpa dilengkapi press card atau surat tugas, paska pencabutan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), para wartawan bodrex sudah berubah. Mereka juga mengantongi press card dari media abal- abal, sebab untuk menerbitkan media cetak mau pun media online tak lagi membutuhkan SIUPP.
Saat ini, wartawan bodrex sudah tidak berkelompok lagi dalam menjalankan berbagai aksinya. Seiring dengan perkembangan jaman, mereka hanya menjalankan aksinya paling banter 2- 4 orang. Meski begitu, ketika menemui sumber berita yang empuk, mereka biasa menggunakan modus seakan mewakili beberapa media (wartawan). Tujuannya gampang ditebak, supaya in come yang didapat bertmbah.
Ada sedikit catatan yang agak menggelikan terhadap sepak terjang wartawan- wartawan bodrex ini, khususnya ketika menjalankan aksinya di pelosok pedesaan dengan sasaran kepala desa, kepala sekolah atau orang- orang yang memiliki masalah. Karena nama medianya memang membingungkan, maka , saat ditanya wartawan apa, mereka tanpa ragu menyebut dari majalah Tempo atau harian Kompas. Mungkin penyebutan media cetak nasional tersebut diartikan sebagai tempo- tempo dapat (uang) atau kerjaannya memang kompas sana kompas sini


